Analisis Diplomasi Twitter (Twiplomacy) Oleh Pemerintah Ukraina Selama Invasi Rusia Tahun 2022-2024
Keywords:
Twiplomacy, diplomasi digital, Ukraina, Invasi RusiaAbstract
Twitter (sekarang X) dalam konflik Invasi Rusia ke Ukraina telah menjadi arena pertempuran baru, terutama perang di lapangan meluas menjadi perang informasi di media sosial, yang dipenuhi disinformasi oleh Rusia. Ukraina sebagai pihak yang lebih lemah terus berjuang melawan kekuatan besar Rusia dengan memanfaatkan Twiplomacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akun Twitter resmi aktor negara Ukraina dan mendeskripsikan Diplomasi Twitter Pemerintah Ukraina selama Invasi Rusia. Penelitian ini menggunakan konsep Twiplomacy oleh Burson Cohn dan Wolfe dalam BCW Twiplomacy, yaitu digitalisasi konflik geopolitik, narasi terus terang, dan keterlibatan publik, melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten. Data yang digunakan bersumber dari keseluruhan tweet aktor negara Ukraina yaitu Presiden Zelenskyy, Menteri Fedorov, dan Kenegaraan Ukraina serta studi literatur dari website
resmi pemerintahan, publikasi jurnal, dan sumber daring yang kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Twitter memiliki peran strategis bagi Ukraina, seperti menyebarkan narasi, menggalang donasi dalam bentuk blockchain, dan adanya keikutsertaan masyarakat dalam konflik senjata melalui media sosial. Selain itu, ketiga akun Twitter resmi aktor negara Ukraina memiliki karakteristik dan pola Twiplomacy yang berbeda, di mana Presiden Zelenskyy berfokus pada narasi emosional yang mengharukan untuk menggalang dukungan dari pemerintah lain dan membangun empati publik, Menteri Fedorov dengan narasi emosional yang informatif dengan menyoroti teknologi drone dan starlink, serta akun negara Ukraina dengan narasi tajam melalui sarkasme, satire, dan
meme guna membingkai Rusia sebagai agresor. Kemudian dari ketiga akun tersebut, akun negara Ukraina memiliki interaksi terbanyak melalui konten meme dan narasi satire, diikuti akun Presiden Zelenskyy dan Menteri Fedorov. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan Twiplomacy dapat mempercepat respon global terhadap invasi melalui dukungan internasional, baik dari aktor negara maupun aktor non-negara.